A. Perkembangan Emosi pada Masa Bayi
Emosi adalah bahasa pertama yang orang tua dan bayi komunikasikan sebelum bayi dapat berbicara (Maccoby,1992). Bayi mengekspresikan sebagian emosi jauh lebih awal dibandingkan dengan beberapa emosi lainnya. Untuk menentukan apakah bayi benar-benar mengekspresikan suatu emosi tertentu. Carrol Izard (1982) mengembangkan suatu system Maximally Discriminative Facial Movement Coding System (Sistem Koding Gerakan Wajah Diskriminative Maksimum) ialah system pengkodean ekspresi wajah bayi yang berkaitan dengan emosi yang dikembangkan oleh Izard dengan menggunakan MAX, pengkode memperhatikan rekaman gerakan lambat reaksi wajah bayi terhadap rangsangan. Rangsangan yang diberikan diantaranya ialah memberi bayi kubus es, menempelkan isolasi pada punggung tangan bayi, memberi bayi mainan kesukaannya dan kemudian mengambilnya, memisahkan bayi dari ibunya lalu mempertemukan mereka, menyuruh seorang asing mendekati bayi, mengekang kepala bayi, meletuskan balon didepan wajah bayi, dan memberikan kulit juruk yang asem untuk dibaui serta jeruk asam untuk dikecap.
Jadwal Perkembangan Emosi bayi
Ekspresi emosional
1. Minat, senyuman bayi yang baru lahir (jenis setengan senyum yang muncul secara spontan tanpa alas an yang jelas) “terkejut, stress, rasa muak:.
2. Senyuman social, muncul pada saat lahir 4 hingga 6 minggu.
3. Kemarahan, keheranan, kesedihan. Muncul ketika umur 3 hingga 4 bulan.
4. Ketakutan, muncul ketika umur 5 hingga 7 bulan.
5. Rasa malu, muncul ketika umur 6 hingga 8 bulan.
6. Rasa hina, rasa bersalah. Muncul ketika umur 2 tahun.
Ekspresi itu merupakan pendahuluan dari senyuman social dan emosi keheranan serta kesedihan, yang muncul kemudian. Tidak ada bukti yang mengemukakan bahwa ekspresi ini berkaitan dengan perasaan yang paling dalam (inner feeling) pada saat bayi diamati pada beberapa minggu pertama kehidupan.
Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang tampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk menangis dan meronta. Pada keadaan tenang, bayi tidak menunjukan perbuatan apa pun, hal demikian merupakan emosi netral.
Kurang lebih tiga bulan kemudian, baru tampak pembedaan. Pada saat ini, terdapat dua ekstremitas, yaitu rasa tertekan atau terganggu dan rasa senang atau gembira. Senang atau gembira merupakan perkembangan emosi lebih lanjut yang tidak terdapat pada waktu lahir.
Pada waktu usia lima bulan, marah dan benci mulai dipisahkan dari rasa tertekan atau terganggu. Usia tujuh bulan, mulai tampak perasaan takut. Antara usia 10-12 bulan, perasaan bersemangat dan kasih sayang mulai terpisah dari senang. Semakin besar anak itu, semakin besar pula, kemampuannya untuk belajar, sehingga perkembangan emosinya kian rumit. Perkembangan emosi lewat proses kematangan hanya terjadi saat usia satu tahun. Setelah itu, perkembangan selanjutnya lebih baik ditentukan oleh proses belajar.

Menangis
Menangis adalah mekanisme yang paling penting yang dikembangkan oleh bayi yang baru lahir untuk berkomunikasi dengan dunianya. Hal ini benar karena tangisan pertama bayi membuktikan adanya udara dalam paru-paru bayi. Tangisan juga dapat membantu dokter atau peneliti untuk meneliti sesuatu tentang system syaraf pusat. Bayi memiliki tiga tipe tangisan :
1. Tangisan dasar ialah suatu pola berirama yang biasanya terdiri dari satu tangisan, yang dikuti oleh diam sesaat, diteruskan dengan satu siulan kecil pendek dengan nada agak lebih tinggi dibandingkan dengan tangisan utama, lalu diakhiri dengan istirahat singkat lain sebelum tangisan berikutnya. Beberapa pakar tangisan bayi yakin bahwa rasa lapar adalah salah satu kondisi yang mendorong tangisan dasar.
2. Tangisan kemarahan adalah salah satu variasi dari tangisan dasar. Akan tetapi, didalam tangisan kemarahan lebih banyak udara dikeluarkan melalui tali suara. Tangisan kemarahan “mendapatkan namanya” dari ibu-ibu yang menyimpulkan kemarahan dari tangisan itu.
3. Tangisan kesakitan adalah yang dirancang oleh rangsangan yang intensitasnya tinggi, berbeda dari tipe tangisan lain dalam arti ada suatu kemunculan tangisan keras yang tiba-tiba tanpa rintihanpendahuluan, dan suatu tangisan awal yang panjang diikuti oleh satu upaya menarik nafas cukup lama.
Rasa Percaya (Trust)
Erik Erikson (1968), tahun pertama kehidupan ditandai oleh tahap perkembangan rasa percaya dan rasa tidak percaya. Erikson yakin bahwa bayi mempelajari rasa percaya apabila mereka diasuh dengan cara konsisten, hangat. Jika bayi tidak diberi makan dengan baik dan tidak ditempatkan dalam suasana hangat dengan konsisten, suatu rasa tidak percaya cenderung berkembang pada bayi. Bayi yang memiliki rasa percaya cenderung untuk memiliki rasa aman dan memiliki rasa percaya diri untuk mengeksplorasi lingkungan yang baru, sedangkan bayi yang memiliki rasa tidak percaya cenderung untuk memiliki kondisi sebaliknya dan tidak memiliki harapan-harapan positive.

B. Perkembangan Emosi pada Masa Awal Anak-anak
Pada masa awal kanak-kanak, dunia emosional anak-anak berkembang untuk mencakup lebih banyak waktu luang bergaul dan bermain dengan teman-teman sebaya. Dunia mereka yang kecil semakin luas ketika mereka menemukan tempat-tempat perlindungan baru dan orang-orang baru, walaupun orang tua penting dalam perkembangan mereka.
Relasi Teman Sebaya
Ketika anak bertumbuh lebih besar, relasi teman sebaya semakin menghabiskan banyak sekali waktu mereka. Teman sebaya (peers) ialah anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya kurang lebih sama. Fungsi teman sebaya salah satunya ialah menyediakan suatu sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Anak-anak menerima umpan balik tentang kemampuan-kemampuannya mereka dari kelompok teman sebaya. Anak-anak mengevaluasi apa yang mereka lakukan lebih baik daripada apa yang dilakukan oleh anak-anak lainnya. Sejumlah teoritis memberikan argument bahwa relasi orang tua anak berfungsi sebagai landasan emosional untuk menjelajahi dan menikmati relasi teman sebaya. Dalam studi kasus, sejarah relasi setiap teman sebaya membantu meramalkan hakekat interaksi teman sebaya. Bebebrapa anak laki-laki sangat agresif (suku menherjai) dan anak-anak lain menjadi kambing hitam agresi ini sepanjang tahun-tahun prasekolah mereka. Orangtua anak-anak suka mengerjai sering kali menolak mereka, otoriter, dan permissive tentang agresi anak-laki-lakinya dan keluarga seringkali menjadi kambing hitam ditandai oleh perselisihan. Sebaliknya, orangtua anak-anak sering kalo menjadi kambing hitam cemas dan terlalu melindungi, memberikan pengasuhan khusus agar anak laki-lakinya terhindar dari agresi. Anak-anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik didalam studi lebih cenderung tidak terlibat saling agresi dengan teman-teman sebayanya dibandingkan anak-anak yang suka mengerjai dan anak-anak yang menjadi kambing hitam.

Diri
Selama masa awal kanak-kanak, terjadi beberapa perkembangan penting dalam diri. Diantara perkembangan –perkembangan ini adalah menghadapi isu prakarsa versus rasa bersalah dan peningkatan pemahaman diri. Menurut Erikson, anak-anak yakin bahwa mereka adalah diri mereka sendiri; yang selama masa awal anak-anak, mereka harus menemukan menjadi mereka kelak. Mereka mengidentifikasikan diri intersif dengan orangtua, yang hampir sepanjang waktu tampak sangat kuat dan cantik dimata mereka, walaupun seringkali tidak masuk akal, tidak menyenangkan, dan kadang-kadang tidak berbahaya. Kemudian prakarsa mereka sendiri, anak-anak pada tahap ini dengan gembira beralih ke suatu dunia social yang lebih luas.
Pemaham diri ialah representasi kognitif diri anak, bahkan isi konsep diri anak. Misalnya seorang perempuan berusia 5 tahun memahami bahwa ia adalah seorang perempuan, berambut hitam, suka mengendarai sepedanya, memiliki seorang teman, dan seorang perenang. Seorang laki-laki berusia 11 tahun memahami bahwa ia seorang pelajar, laki-laki, pemain sepak bola, anggota suatu keluarga, penggemar video game, dan penggemar music rock. Pemahaman diri seorang anak didasarkan atas berbagai peran dan kategori-kategori keanggotaan yang mendefinisikan siapa anak itu. Walaupun bukan keseluruhan identitas pribadi, pemaham diri memberi tiang pondasi rasionalnya.

C. Perkembangan Emosi pada Masa Pertengahan dan Akhir Anak-anak
Perkembangan emosional anak-anak berubah dengan berbagai cara selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Perubahan-perubahan ini melibatkan diri, gender, dan perkembangan moral ketika anak berinteraksi dengan oranglain dalam konteks keluarga, teman-teman sebaya dan sekolah.
Relasi teman sebaya
Selama masa pertengahan dan akhir anak-anak, anak-anak meluangkan banyak waktunya dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Dalam suatu investigasi, diketahui anak-anak berinteraksi dengan teman-teman sebaya 10 persen dari waktu siang mereka pada usia 2 tahun, 20 persen pada usia 4 tahun, dan lebih dari 40 persen antara usia 7 tahun dan 11 tahun. Kebanyakan interaksi teman sebaya terjadi diluar rumah, lebih sering terjadi ditempat-tempat pribadi daripada ditempat umum, dan lebih sering terjadi di antara anak-anak yang sama jenis kelamin daripada di antara anak-anak yang berbeda jenis kelamin.
Popularitas, penolakan, dan pengabaian teman sebaya
Anak-anak sering berpikir “Apa yang dapat aku lakukan agar anak-anak di sekolah suka padaku?” atau “apa yang salah pada diriku?” Pasti ada sesuatu yang salah atau aku mestinya lebih popular.” Apa yang menyebabkan seorang anak popular di mata teman-teman sebayanya? Anak-anak yang memberi paling banyak bantuan ?(reinforcement) seringkali popular. Begitu juga dengan seorang anakyang mendengarkan dengan baik anak-anak lain dan memelihara jalur-jalur komunikasi yang terbuka. Menjadi diri sendiri, gembira, memperlihatkan antusisme (semangat) dan perhatian kepada orang lain, serta percaya diri, tetapi tidak sombong adalah cirri-ciri yang membantu anak-anak dengan baik dalam pencarian popularitas diantara teman sebaya.
Para pakar psikologi perkembangan membedakan dua tipe anak-anak yang tidak popular dimata teman-teman sebaya mereka; anak-anak yang diabaikan dan anak-anak yang ditolak. Anak-anak yang di abaikan, menerima sedikit perhatian dari teman-teman sebaya mereka, tetapi tidak berarti mereka tidak disukai oleh teman-teman sebaya mereka. Anak-anak yang di tolak adalah anak-anak yang tidak di sukai oleh teman-teman sebaya mereka. Mereka lebih cenderung bersifat mengganggu dan agresif dibandingkan anak-anak yang di abaikan.
Sahabat
“Teman akrabku baik. Ia jujur dan aku dapat mempercayainya. Aku dapat bercerita kepadanya rahasia-rahasiaku yang paling mendalam dan mengetahui bahwa tidak seorang pun akan mengetahuinya. Aku mempunyai teman-teman lain, tetapi dialah temanku yang paling akrab. Kami saling meneggang perasaan dan tidak mau saling menyakiti. Kami saling menolong apabila kami menghadapi masalah. Kami memberi nama-nama yang lucu kepada orang-orang dan menertawakan kebodohan diri kami sendiri. Kami membuat daftar anak laki-laki mana yang kami piker yang paling jelek, paling tolol, dan seterusnya. “Ini adalah suatu gambaran tentang suatu persahabatn oleh seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Ini mencerminkan keyakinan bahwa anak-anak lebih tertarik dengan teman sebaya tertentu dan tidak dengan semua teman sebaya. Mereka ingin berbagi persoalan, minat informasi dan rahasia sesame mereka..”
Perkembangan pemahan diri
Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak, pemahaman diri berubah secara pesat dari mengidentifikasikan diri melalui karakteristik eksternal menjadi mengidentifikasikan diri melalui karakteristik internal. Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak, anak-anak tidak hanya menyadari perbedaan-perbedaan antara keadaan –keadaan dalam dan luar, tetapi juga lebih cenderung mancakup keadaan dalam yang subyektif dalam definisi mereka tentang diri sendiri. Misalnya Aku pintar dan popular atau aku cukup lumayan tidak kuator terus-menerus. Aku biasanya suka marah, tetapi aku sudah lebih baik sekarang. Aku juga merasa bangga bila aku berprestasi di sekolah.
Relasi orang tua anak dan harga diri
Dalam investigasi yang paling ekstensif tentang relasi orang tua-anak dan harga diri, suatu alat ukur harga diri diberikan kepada anak laki-laki sekolah dsar, dan anak laki-laki itu serta ibunya diwawancarai tentang relasi keluarga mereka. Berdasarkan penilaian (assessments) ini, artibut-artibut orang tua berikut ini diasosiasikan dengan tingginya harga diri anak-anak:
• Ekspresi afeksi
• Kepedulian terhadap masalah-masalah anak
• Harmoni di dalam rumah
• Partisipasi dalam kegiatan-kegiatan bersama keluarga
• Kesiapan memberi bantuan yang kompeten dan terorganisasi kepada anak-anak ketika mereka membutuhkannya
• Penetapan aturan yang jelas dan adil
• Ketaatan terhadap aturan ini
• Pemberian kebebasan kepada anak-anak dalam batas-batas yang ditentukan dengan jelas
Tekun versus rendah diri (industry vs inferiority)
Industry mengekspresikan suatu tema yang dominan pada periode ini. Anak-anak menjadi tertarik pada bagaimana sesuatu diciptakan dan bagaimana sesuatu itu bekerja. Bila anak-anak didorong dalam upaya-upaya merekauntuk berbuat, membangun, serta bekerja-apakah membangun suatu pesawat udara model, membangun suatu rumah yang tinggi, memperbaiki sepeda, memecahkan sesuatu masalah tambahan, atau memasak- rasa tekun mereka akan meningkat. Akan tetapi, orangtua yang melihat upaya anak-anak mereka dalam membuat sesuatu sebagai “kacau” atau “berantakan” dapat mendorong perkembangan rasa rendah diri pada anak-anak.

D. Perkembangan Emosi Pada Remaja
Perkembangan emosi pada remaja ditandai emosi yang tidak stabil dan penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bias berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan emosi ini erat kaitannya dengan kemasakan hormone yang terjadi pada remaja. Stress emosional yang timbul berasal dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi sewaktu pubertas.
Menurut Havighurst remaja bertugas mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya. Hal ini bias membuat remaja melawan keinginan atau bertentangan pendapat dengan orangtuanya. Dengan cirri khas remaja yang penuh gejolak dan emosional, pertentangan pendapat ini seringkali membuat remaja memnjadi pemberontak di rumah. Apabila masalah ini tidak terselesaikan, terutama orangtua bersikap otoriter, remaja cenderung mencari jalan keluar dari rumah, yaitu dengan cara bergabung dengan teman-teman sebaya yang senasib. Seringkali karena yang dihadapi adalah remaja yang seusia yang punya masalah yang kurang lebih sama dan sama-sama belum berhasil mengerjakan tugas perkembangan yang sama, bias jadi solusi yang ditawarkan kurang bijaksana. Kehadiran problem emosional tersebut bervariasi pada setiap remaja.
Salah satu cirri-ciri remaja menurut Allport (1961) adalah berkurangnya egoisme, sebaliknya tumbuh perasaan saling memiliki. Salah satu tanda yang khas adalah tumbuh kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya. Kemampuan untuk menenggang rasa dengan orang yang dicintainya, untuk ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh orang-orang yang dicintainya. Ciri lainnya adalah berkembangnya “ego ideal” berupa cita-cita, idola, dan sebagainya yang menggambarkan bagaimana wujud ego (diri sendiri) di masa depan.
Perkembangan kemandirian emosional remaja, tidak terlepas dari penerapan pengasuhan orangtua melalui interaksi antara ibu dan ayah dengan remajanya. Orangtua merupakan lingkungan pertama yang paling berperan dalam pengasuhan anak remajanya, sehingga mempunyai pengaruh yang paling besar pada pembentukan kemandirian emosional remaja. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan seperti I Nyoman Karna (2002), Miftahul Jannah (2004), Risa Panti Ariani (2004) menunjukan bahwa gaya pengasuhan orang tua yang harmonis, hangat, penuh kasih saying (authoritative) menunjang perkembangan kemandirian emosional remaja, namun sebaliknya gaya pengasuhan yang penuh dengan tuntutan, orangtua tidak perhatian, penuh dengan sanksi, tidak pernah melibatkan anak dalam pengambilan keputusan akan menghambat perkembangan kemandirian remaja khususnya kemandirianemosional artinya remaja tidak mampu melepaskan diri dari ketergantungan dan keterikatan secara emosional dengan orang tua.
E. Perkembangan Emosi Pada Dewasa
Ciri-ciri emosi orang dewasa yaitu berlangsung lebih lama dan berakhir dengan lambat, tidak terlihat hebat/kuat seperti emosi anak-anak, sulit diketahui karena lebih pandai. Contoh pengaruh emosi terhadap perilaku individu orang dewasa, diantaranya :
a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senag atau puas atas hasil yang telah dicapai.
b. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
c. Menghamvat atau mengganggu konsentraso belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bias juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dan berbicara.
d. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengaruhi sikapnya dikemudian hari, baik terhadao dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
Jenis Emosi Perubahan Fisik
1. Terpesona 1. Reaksi elektris pada kulit
2. Marah 2. Peredaran darah bertambah cepat
3. Terkejut 3. Denyut jantung bertambah cepat
4. Kecewa 4. Bernapas panjang
5. Sakit / Marah 5. Pupil mata membesar
6. Takut / Tegang 6. Air liur mengering
7. Takut 7. Bulu roma berdiri
8. Tegang 8. Pencernaan terganggu, otot – otot menegang atau bergetar ( tremor )